//Pscyhological First Aid

Pscyhological First Aid

Selama beberapa tahun ini, Indonesia tidak pernah terlepas dari bencana alam, seperti letusan Gunung Sinabung, tanah longsor di Banjarnegara, banjir bandang di Manado, dan masih banyak becana alam lainnya. Bencana alam di Indonesia tentunya akan menyisakan korban-korban selamat yang telah kehilangan banyak hal, mulai dari harta-benda, mata pencaharian hingga sanak-famili. Korban selamat atau yang biasa disebut sebagai penyintas, dapat terkena dampak secara fisik dan psikologis dari bencana alam. Para penyintas bencana alam tersebut tentunya membutuhkan bantuan dari pemerintah dan orang-orang sekitar.

Bencana alam menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan bagi penyintas dan dapat menyebabkan ketidakseimbangan psikologis, oleh karena itu diperlukan juga bantuan secara psikologis bagi para penyintas. Salah satu intervensi yang dapat diberikan untuk membantu para penyintas adalah Pscyhological First Aid (PFA). Menurut World Health Organization (2011), PFA merupakan tindakan humanis dan mendukung dalam membantu seseorang yang menderita dan membutuhkan bantuan akibat bencana alam atau krisis. PFA sendiri dapat dilakukan dengan cara mendengarkan, membuat penyintas merasa nyaman, membantu seseorang untuk terhubung orang lain, dan menyediakan informasi serta dukungan praktis untuk memenuhi kebutuhan penyintas. PFA sendiri tidak harus dilakukan oleh para ahli, tetapi dapat dilakukan oleh komponen masyarakat yang sudah dilatih terlebih dahulu.

Sementara ini pemerintah Indonesia lebih terfokus dalam memberikan bantuan fisik ketika becana alam melanda, sedangkan bantuan non-fisik belum banyak terlihat (Winurini, 2014). Di Indonesia, PFA diberikan bersamaan dengan psychosocial support, seperti yang dilakukan oleh para relawan dan perawat pada tahun 2010 ketika bencana erupsi merapi melanda. Namun, ketika bencana secara beruntun melanda Indonesia, ketersediaan para pemberi pelayanan PFA masih menjadi masalah.

Intervensi dengan menggunakan PFA sampai saat ini belum memiliki standar, hal ini karena belum terdapat panduan PFA yang menunjukkan bukti-bukti kuat akan kefektivitasan dari PFA (Dieltjens, Moonens, Van Praet, & De Buck, 2014). Di Indonesia, PFA juga belum memiliki kejelasan, para praktisi masih melakukannya sesuai dengan persepsi mereka masing-masing.

Oleh karena itu, diperlukan suatu kesepakatan dan pendapat mengenai langkah-langkah dalam memberikan PFA kepada para penyintas yang dapat dijadikan sebagai panduan bagi praktisi-praktisi dan masyarakat.