//Pemulihan Pasca Bencana secara Psikologis

Pemulihan Pasca Bencana secara Psikologis

Terjadinya bencana membawa perubahan yang tidak dapat diprediksi, sehingga meskipun seorang tidak menunjukkan luka secara fisik, tetap saja kejadian ini dapat menjadi beban emosional bagi korban yang mengalaminya. Umum bagi seseorang yang telah mengalami bencana untuk memiliki reaksi emosional yang kuat. Mengerti mengenai respon terhadap peristiwa menyedihkan dapat membantu orang untuk mengatas dengan efektif perasaannya, pemikirannya dan perilakunya serta membantunya dalam jalan menuju pemulihan.

Reaksi umum terhadap bencana

Setelah terjadinya bencana, orang sering merasa terkejut, kaget, disorientasi atau tidak mampu untuk mengintegrasikan informasi yang membebankan. Setelah respon awal ini berkurang, orang dapat mengalami berbagai macam pemikiran dan perilaku. Beberapa respon umum termasuk:

Perasaan yang intens atau tidak bisa ditebak. Seseorang dapat merasa cemas, gelisah, terbebani secara berlebihan atau berduka cita. Orang juga dapat merasa lebih mudah marah atau jengkel daripada biasanya.
Perubahan pada pola pikir dan perilaku. Individu dapat memiliki ingatan berulang yang jernih mengenai peristiwa tersebut. Ingatan ini dapat terjadi tanpa sebab dan dapat memicu reaksi fisik seperti detak jantung meningkat atau berkeringat. Dapat terjadi kesulitan berkonsentrasi atau membuat keputusan. Pola makan dan tidur juga dapat terganggu- beberapa orang juga dapat tidur atau makan secara berlebihan sedangkan orang lain bisa mengalami kesulitan tidur dan kehilangan selera makan.
Meningkatnya sesitivitas terhadap faktor lingkungan. Suara yang keras, sirene, bau terbakar atau sensasi lingkungan lain dapat menstimulasi ingatan mengenai kejadian dan mengakibatkan peningkatan rasa cemas. Pemicu ini dapat muncul bersamaan dengan ketakutan bahwa peristiwa penuh stress itu akan terjadi lagi.
Hubungan interpersonal yang tegang. Peningkatan konflik, seperti lebih sering berselisih paham dengan anggota keluarga, rekan kerja, dapat terjadi. Seseorang juga dapat menarik diri, terisolasi atau berhenti dari aktivitas sosial yang biasanya dilakukan.
Gejala fisik yang berkaitan dengan stress. Sakit kepala, perasaan mual dan rasa sakit di dada dapat dialami oleh korban dan mungkin membutuhkan pelayanan medis. Kondisi kesehatan yang sudah ada sebelum bencana terjadi dapat terpengaruh oleh stress yang dipicu oleh kejadian bencana.
Bagaimana seseorang dapat mengatasinya?

Untungnya, penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orang cukup resilien (tangguh) dan setelah beberapa waktu, mampu untuk bangkit kembali dari bencana. Cukup umum bagi orang untuk merasakan stress langsung setelah kejadian, tetapi setelah beberapa bulan, kebanyakan orang mampu untuk meneruskan seperti keadaan semula sebelum kejadian bencana. Penting untuk mengingat bahwa normanya adalah resiliensi atau ketangguhan dan pemulihan, bukan stress yang berkepanjangan.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membangun kesehatan emosional dan mendapatkan rasa control atas diri sendiri setelah terjadinya bencana, yakni sebagai berikut:

Beri waktu untuk beradaptasi. Antisipasilah bahwa masa ini adalah masa yang cukup sulit dalam hidup. Berikan kesempatan untuk berduka atas kehilangan yang dialami dan usahakan untuk bersabar atas perubahan kondisi emosi.
Meminta dukungan dari orang yang peduli dan dapat mendengarkan atau berempati dengan situasi. Dukungan sosial merupakan komponen kunci dalam pemulihan bencana. Keluarga dan teman dapat menjadi sumber yang penting. Dukungan juga dapat ditemukan pada orang-orang yang sudah pernah melalui bencana sebelumnya, juga pada orang lain yang mungkin dapat memberikan dukungan lebih.
Mengkomunikasikan pengalaman. Ekspresikan perasaan yang dirasakan dengan cara apapun yang nyaman – seperti bercerita kepada anggota keluarga atau teman dekat, membuat buku harian atau melibatkan diri dalam aktivitas yang kreatif.
Mencari support group local yang dibimbing oleh professional terlatih dan berpengalaman. Ada beberapa kelompok dukungan untuk penyintas. Diskusi kelompok dapat membantu untuk menyadarkan bahwa penyintas tidak sendirian dalam perasaan yang dialaminya. Pertemuan kelompok support juga dapat menjadi pengganti sumber dukungan bagi orang dengan sistem dukungan personal yang terbatas.
Melakukan perilaku-perilaku sehat untuk meningkatkan kemampuan untuk mengatasi stress yang berlebihan. Makan secara teratur dan tidur secukupnya. Jika mengalami gangguan tidur, gunakanlah teknik-teknik relaksasi. Jauhi konsumsi alkohol dan narkoba karena dapat menjadi pengalih yang juga dapat menghambat coping dan terus melanjutkan hidup dari kejadian bencana.
Membuat atau mengatur kembali rutinitas. Hal ini termasuk makan tepat waktu, pola tidur yang teratur, atau mengikuti program olah raga rutin. Buatlah rutinitas positif supaya semangat menyambutnya di masa-masa yang sulit, seperti melakukan hobby, membaca buku dan lain-lain.
Hindari membuat keputusan hidup yang penting. Berubah pekerjaan dan ketupusan penting lainnya adalah keputusan yang sangat stress dengan sendirinya, dan semakin meningkat ketika sedang pulih dari bencana.
Jika perasaan stress atau ketidakberdayaan terus dirasakan dan individu merasa sulit melakukan kegiatan sehari-hari, berkonsultasilah dengan dengan professional kesehatan mental seperti psikolog. Psikolog terlatih untuk membantu individu menyikapi reaksi emosinya setelah bencana seperti, ketidak percayaan, stress, kecemasan, dan duka yang mendalam dan membantu membuat perencanaan untuk terus melanjutkan hidup.

Artikel ini diadaptasi dari artikel APA, direvisi pada Agustus 2014. Artikel asli dapat diakses di : http://www.apa.org/helpcenter/recovering-disasters.aspx